Sabtu, 26 Februari 2011

Berjuang Sendiri Menerbitkan Buku


Sejumlah penulis atau pun intelektual di Bali belakangan menerbitkan sendiri karya tulisnya menjadi buku. Minimnya penerbit buku di Bali merupakan salah satu penyebab munculnya penerbitan buku secara swadaya itu. Ada usulan pembentukan seka arisan bikin buku.

Pengarang sekaligus pemilik percetakan, Gde Aryantha Soethama punya penilaian menarik soal perilaku orang Bali dalam pengadaan penggandaan teks. Menurutnya, orang Bali banyak yang menulis lontar atas keinginan sendiri. Kebanyakan mereka hanya menulis karyanya itu hanya satu lontar. Umumnya orang Bali dikenal “malas” memperbanyak lontar. Padahal isinya kemudian diketahui luar biasa, amat penting dan bermanfaat.

“Keengganan leluhur Bali menggandakan karya-karya cemerlang mereka itu ternyata terwariskan hingga kini, tatkala industri perbukuan tumbuh dan berbiak gesit,” ujar Aryantha.



Memang, belakangan cukup banyak ditemukan perilaku pengarang atau intelektual Bali yang menerbitkan sendiri karya-karyanya atas insiatif sendiri, pakai uang sendiri. Umumnya, tiras buku yang diterbitkan hanya puluhan atau ratusan eksemplar.

Apa yang diungkapkan Aryantha tidaklah keliru. Prof. Dr. I Nyoman Weda Kusuma, M.S., misalnya menerbitkan disertasinya menjadi buku dengan biaya sendiri. “Saya habis biaya sekitar Rp 7 juta,” cerita Weda yang menerbitkan buku berjudul, Kakawin Usana Bali Karya Danghyang Nirartha.

Kisah serupa tampaknya juga dialami sejumlah guru besar Unud lainnya seperti Prof. Dr. Dewa Ngurah Suprapta yang menerbitkan buku Pertanian Bali Dipuja Petaniku Merana, Prof. Tjok. Istri Putra Astiti yang meluncurkan buku berjudul Pemberdayaan Awig-awig Menuju Ajeg Bali serta Prof. I Made Nitis yang baru-baru ini merilis buku berjudul, Peternakan Berwawasan Kebudayaan.

Buku-buku mereka memang diterbitkan oleh penerbit tertentu yang ada di Bali. Akan tetapi, kenyataannya si penulis atau pengarang mesti merogoh koceknya agar bukunya bisa terbit.

“Di Bali memang berbeda dengan Yogya. Kalau di Bali kita menerbitkan buku mesti mengeluarkan uang kepada penerbit, kalau di Yogya malah kita yang dapat duit,” kata I Ngurah Suryawan, mahasiswa Antropologi Unud yang beberapa kali menerbitkan buku-bukunya di Yogya.

Dinamika penerbitan buku di Bali memang kalah jauh ketimbang Yogya atau Bandung. Di Yogya, penggiat industri perbukuan bisa dijumpai di tempat-tempat kos, digerakkan oleh anak-anak muda. Mereka melakoninya sendiri-sendiri atau berkelompok. Banyak buku baru bisa dijumpai, banyak penerbit baru muncul, banyak pula akhirnya gulung tikjar, namun akan segera tumbuh lagi yang baru. Kondisi ini tentu memberikan banyak pengalaman dan manfaat yang bisa dipetik.

Menyiasati kondisi industri perbukuan di Bali yang belum sehangat Yogya itu, Aryantha melontarkan usul menarik: membentuk sekaa arisan bikin buku yang disingkat menjadi Seribu. Menurut dia, orang bali biasanya melakukan kegiatan adat dan keagamaan melalui kelompok. Bali dikenal memiliki dinamika kelompok dalam bentuk sekaa. Banyak program pembangunan menuai sukses besar setelah digarap sekaa dalam dinamika banjar.

“Mengapa penerbitan buku tidak dicoba lewat dinamika sekaa?” tanya Aryantha.

Nama Seribu yang diusulkan Aryantha bukan tanpa pertimbangan. Sekaa ini bakal menerbitkan buku dengan tiras minimal 1.000 eksemplar sekali terbit.

Anggota sekaa, kata dia, jangan terlalu banyakm cukup 5 sampai enam orang. Merekalah yang mengurus mulai dari naskah, pracetak, membawanya ke percetakan hingga pemasaran.

Spesifikasi buku yang hendak diterbitkan disarankan dengan ukuran 14 X 20 cm, kertas HVS 70 gram, sampul art paper 230 gram full color, halaman dibatasi sampai 120 halaman. Dengan spesifikasi buku seperti itu, per eksemplar bisa menelan biaya Rp 6.000. Jika mencetak 1.000 eksemplar tentu menghabiskan biaya Rp 6.000.000.

“Jika satu putaran arisan selama setahun, setiap dua bulan sekali diterbitkan satu judul buku. Untuk itu, uang yang harus dikeluarkan setiap anggota sekaa setiap dua bulan sekali adalah Rp 1.000.000 atau Rp 500.000 setiap bulan,” beber Aryantha.

Lantas, bagaimana jika halaman buku yang dicetak melebihi 120 halaman serta pengarangnya ingin mencetak lebih dari 1.000 eksemplar? Tentu butuh tambahan biaya dan itu mesti ditanggung pengarangnya sendiri. Sekaa hanya membiayai untuk 120 halaman dengan tiras 1.000 eksemplar.

Setelah terbit, buku pun dijual. Dengan tebal 120 halaman, buku itu bisa layak dijual dengan harga Rp 20.000-Rp 25.000 per buku. Toko buku biasanya akan meminta bagian 30 persen dari harga buku. Jika harga jual Rp 20.000, pengarang tentu menerima 70 persen = Rp 14.000/ buku. Ini berarti, untuk mencapai titik pulang modal sebesar Rp 6.000.000, buku yang harus laku adalah sekitar 429 eksemplar. Sisanya 571 eksemplar merupakan keuntungan pengarang.

“Jika buku dijual langsung oleh pengarangnya, tidak melalui toko buku, uang yang diterima utuh Rp 20.000/buku. Untuk mencapai pulang modal menjadi lebih cepat, hanya menjual 300 eksemplar buku. Sisanya, 700 eksemplar menjadi keuntungan pengarang,” urai Aryantha.

Jika semuanya berjalan lancar, usulan Aryantha memang menggiurkan. Namun, persoalannya, mungkikah bisa menjual buku 300 atau 429 eksemplar dalam waktu setahun? “Itu tergantung kiat pemasaran pengarang sendiri,” katanya.

Namun, Aryantha juga berharap pemerintah daerah bisa membantu sekaa bikin buku ini. Caranya, pemerintah membeli 300 eksemplar buku yang diterbitkan sekaa untuk disebarkan ke perpustakaan daerah, sekolah dan lembaga-lembaga lainnya.

Nah, bagaimana? Ada yang berminat? (0)

Tentang Penulis

Made Sujaya

Penulis & Editor

Dosen di Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, IKIP PGRI Bali, redaktur budaya DenPost Minggu, pengasuh portal balisaja.com

Posting Komentar

 
gubuk sujaya © 2015 - Designed by Templateism.com