Senin, 28 Februari 2011

Inspirasi Perdamaian dari Kuta


Judul : Sepotong Nurani Kuta
(Catatan Seputar Sikap Warga Kuta dalam Tragedi 12 Oktober 2002)
Penulis : I Made Sujaya
Penerbit : LPM Kelurahan Kuta, 2004
Tebal : xxiii + 182 halaman

PERJALANAN panjang dan melelahkan pariwisata Kuta telah mencatat sejarah baru bagi pemuliaan harkat dan martabat manusia sejagat. Sejarah itu justru lahir setelah ledakan bom mahahebat mengguncang pusat pariwisata Kuta di Jalan Legian, 12 Oktober 2002 yang memakan 202 korban mati sia-sia.

Kidung perdamaian dengan semangat manyama braya mengalun dari pusat ledakan bom mewujud dalam bentuk kerja nyata. Heterogenitas komunitas telah membangun sumur peradaban sebagai wujud manusia berbudaya tanpa membedakan suku, agama, ras, dan antargolongan. Di sini nilai kemanusiaan sejati menjelma sebagai tontonan menarik yang mengangkat citra pariwisata Kuta khususnya dan Bali umumnya. Sungguh fenomena ini menjadi adegan yang mengagumkan bagi dunia internasional, di tengah duka mendalam yang berkecamuk di hati masyarakat Kuta. Inilah berkah kemanusiaan tertinggi di balik tragedi yang menyisakan kenangan manis dan humanistis sebagai wujud filsafat "untung" yang tanpa disadari telah menjelmakan Bali menjadi pusat perdamaian di awal abad ke-21.

Masih tersisanya kata "untung" adalah cermin belum padamnya nyala lilin kebijaksanaan di bumi Kuta, Bali. "Jangan biarkan lilin kebijaksanaan mati dalam kegelapan nafsu dan dosa. Manusia yang bijaksana bersama suluhnya senantiasa menerangi lorong-lorong kemanusiaan," kata Kahlil Gibran.

Kesan itulah yang tertangkap dari isi buku "Sepotong Nurani dari Kuta" karya I Made Sujaya. Dikemas dengan gaya bahasa jurnalitik dalam bentuk catatan perjalanan, buku ini berkabar kepada dunia tentang peristiwa seputar tragedi 12 Oktober 2002, yang melantakkan Sari Club dan Paddy's Cafe di Jalan Legian Kuta. Puing-puing kehancuran dipotret dengan bahasa yang segar untuk membangkitkan semangat di tengah kegalauan dengan sentuhan kemanusiaan universal. Dari sinilah lantas aliran air perdamaian disemaikan ke seantero dunia.


Catatan perjalanan ini memuat dua pokok bahasan besar yaitu sejarah perjalanan Kuta hingga kini melalui judul "Jejak-jejak Kuta" dan "Seputar Tragedi 12 Oktober 2002" dengan segala dampak ikutnya. Bagian pertama memuat sejarah Kuta sebagai daerah pariwisata yang diawali oleh rombongan Gajah Mada dari Jawa mendarat di Pasih Perahu diikuti pula oleh kedatangan Belanda yang disambut dengan penuh suka cita para nelayan. Dari sinilah pariwisata dimulai. Sementara itu, bagian kedua memuat seputar tragedi 12 Oktober 2002. Di luar itu, juga berisi sambutan Ketua LPM Kelurahan Kuta, Alas Kata dan Catatan Pembuka dari penulis buku dilengkapi pula dengan lampiran-lampiran pada bagian akhir.

Yang menarik, buku ini diawali dan diakhiri dengan puisi. Sebagai catatan pembuka Sujaya mengawali dengan puisi berjudul "Kuta" dan di bagian akhir ditutup dengan puisi karya I Wayan Suwija berjudul "Brahmastra". Puisi terakhir ini menjadi sejarah penting bagi pemuda Kuta karena telah menjadi "Sumpah Pemuda Kuta" saat perayaan Sumpah Pemuda ke-47, dua tahun silam di lokasi ledakan bom Jalan Legian. "Bali meringis/ Jagat raya menangis/ Tangan-tangan Dermawan mengulur/ Berharap engkau mujur/ Wenten pawisik/ Mangda mereresik/ Melinggih, mesila, metimpuh/ Rahayu Rahajeng kepanggih// Daksina dulang pekeling/ sami eling ....eling/ Arsa, kayun, meseriak galang/ Durus, durus, megalung" (hal. 171).

Puisi tersebut menarik karena mampu memotret tragedi kemanusiaan itu dari dua sudut pandang yang berlawanan sesuai dengan konsep rwabineda. Hal itu telah jelas menjadi kenyataan ketika evakuasi korban bom Kuta dilaksanakan. Semangat menyama braya dan solidaritas warga menjelma tanpa memandang etnik, agama, budaya. Respons positif seperti itu tak terlepas dari tebalnya rasa keimanan masyarakat Kuta membentengi diri sebagaimana dipuisikan oleh Sujaya di halaman 1. "Setiap detik memang pesta/ tapi setiap detak/ tetap upacara/ berputar-putar/ dengan bahasa semesta".

Jika diibaratkan novel, catatan perjalanan ini berklimaks saat santernya isu swepping terhadap penduduk pendatang oleh masyarakat Kuta. Isu yang bersifat memancing itu pun ditepis dengan tindakan kemanusiaan yang memperlihatkan sifat menyama braya yang kental antara kaum muslim di bawah komando Haji Bambang dan tokoh-tokoh Kuta. "Setiap orang yang sadar sebagai manusia, pasti memiliki nurani dan ingin membantu korban." (hal.66).

Pernyataan dan tindakan nyata para tokoh itu memperlihatkan adanya kedewasaan bersikap, kearifan ber-wiweka dan keinginan membangun citra positif terhadap dunia pariwisata Kuta. Inspirasi perjuangan tanpa kekerasan (ahimsa) yang digemakan Gandhi di India bergema pula di sini, di kaki pulau Bali. Begitu pula, gema kebijaksanaan penyair Libanon, Kahlil Gibran menemukan jiwanya, yaitu kedamaian. Pun kesenimanan Lotring yang menabuh kesadaran lewat gamelan telah bereinkarnasi di tanah kelahirannya dengan meminjam badan-badan para tokohnya untuk mengambil tindakan yang manis demi sebuah nilai hakiki kemanusiaan.

Mencermati fenomena itu, tepat benar lukisan Sujaya dalam lanjutan puisinya. "Biar liar benar/ tetap setia pada akar/ karena panas matahari/ tetap mengajari/ di sini masih ada matahari/ masih hidup katahati." Puisi yang ditulis pada 2001 itu seakan memberikan kekuatan bagi warga dalam menghadapi peristiwa getir saat bom meledak. Di sini disadari atau tidak, Tuhan hadir dengan tangan-tangan ajaib lewat para tokoh Kuta yang berhasil menetralisasi suasana sehingga orang-orang yang ingin mengambil keuntungan pribadi dengan melakukan penjarahan misalnya dapat ditekan. Tampilnya Kuta dengan semangat persaudaraan sejati menangani evakuasi korban, bukan berarti tidak ada gejolak yang terjadi di antara warga Kuta setelah tragedi. Gejolak itu misalnya muncul dalam bentuk wacana saling silang istilah antara Tragedi Legian dan Tragedi Kuta, keinginan membangun monumen di sekitar lokasi ledakan bom telah mengundang warga Kuta terbelah, tetapi tidak pecah. Begitu pun dengan beban moral warga Kuta seputar peringatan setahun tragedi kemanusiaan itu telah mengundang polemik antara warga dan sikap Pemda. Polemik itu berhasil diselesaikan secara manis bin humanis sebagai wujud manusia berbudaya dengan cahaya nurani yang memancarkan kedamaian.

Sekali pun begitu, catatan Sujaya ini tentu masih menyisakan ruang kosong. Misalnya, dampak tragedi itu terhadap pendidikan anak-anak Kuta, belum lagi wacana kembali ke pertanian yang sempat mencuat pascabom dari para pengambil keputusan yang terkesan menghibur untuk melupakan luka mahadalam yang bertahta di hati masyarakat. Itu belum terungkap. Sehubungan dengan itu, buku sejenis sepantasnya digarap dan ditradisikan oleh LPM Kuta sebagai bentuk penyeimbang pembangunan jasmani dan rohani. Kesehatan rohani masyarakat Kuta perlu dijaga untuk menampung dinamika pemikiran yang pernah hidup dan berkembang di sini. Di tanah kelahiran Wayan Lotring yang mendambakan keindahan muncul dari dalam diri. Dari diri pula damai itu disemaikan karena damai itu indah.

* i nyoman tingkat 
(Dikutip dari Bali Post Minggu Minggu Paing, 17 Oktober 2004)

Tentang Penulis

Made Sujaya

Penulis & Editor

Dosen di Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, IKIP PGRI Bali, redaktur budaya DenPost Minggu, pengasuh portal balisaja.com

Posting Komentar

 
gubuk sujaya © 2015 - Designed by Templateism.com