Senin, 07 Maret 2011

Perpustakaan di Rumah Itu Perlu!


Kehadiran perpustakaan pribadi di rumah kini tak semata menjadi kebutuhan dosen, guru atau kalangan cendekiawan. Masyarakat umum pun mulai berminat menyediakan perpustakaan kecil di tengah-tengah rumahnya. Sebagian menganggap kehadiran perpustakaan di rumah sangat penting di tengah tingginya kebutuhan informasi dan ilmu pengetahuan. Sebagian lainnya memandang perpistakaan di rumah sebagai investasi ilmu pengetahuan bagi anak cucu kelak.


----------------------------------------------- 

Awal tahun 2010. Nyoman Sarjana, seorang tokoh masyarakat Legian, memandangi sebuah ruang kosong di salah satu sudut rumahnya. Ruangan itu dulu merupakan kamar bagi dua orang pembantunya. Tapi, kamar itu kini sudah dibongkar saat renovasi rumahnya. Kini ruangan itu dibiarkan lapang tersambung dengan ruangan tamu. 

Melihat ruangan yang cukup luas itu kosong, Sarjana berpikir untuk memanfaatkannya. Membangun perpustakaan keluarga tiba-tiba melintas dalam pikirannya. “Saya teringat koleksi buku-buku saya, baik buku lama sejak masih kuliah maupun buku baru. Kasihan kalau buku-buku itu dibuang,” kata Sarjana yang tahun 2007 lalu menerbitkan buku otobiografinya yang diberi judul Mensyukuri Hidup dengan Perjuangan, Memaknai Hidup dengan Pengabdian.

Maka, mulailah Sarjana membeli rak buku sederhana untuk memajang koleksi bukunya. Kini, koleksi buku Sarjana semakin banyak. Sebagian besar berisi buku-buku agama, adat dan budaya Bali. Belakangan, Sarjana juga melengkapi koleksinya dengan buku-buku bacaan anak-anak.

“Anak saya suka membaca. Dia sangat suka diajak ke toko buku. Jadi, saya belikan buku bacaan untuk dia dan ditaruh di perpustakaan ini,” kata mantan Ketua LPM Legian yang kini mengurus SIP School Legian. 

Sarjana menuturkan saat sedang santai selalu memilih duduk di ruang perpustakaan pribadinya. Ada saja buku yang dibacanya. “Walaupun koleksi buku saya terbatas, tapi saya belum bisa membaca semuanya. Tapi,saya selalu ingin menambah koleksi. Kalau sedang ke luar daerah atau punya kesempatan ke luar negeri, saya selalu sempatkan membeli buku baru untuk menambah koleksi,” kata Sarjana. 

Tak hanya Sarjana yang begitu bergairah mendirikan perpustakaan pribadi di rumahnya. Seorang warga Kuta, dr. I Wayan Mustika malah sejak lama memanfaatkan pojok ruang tamunya sebagai perpustakaan pribadi. Koleksinya kebanyakan berupa buku-buku referensi, seperti kamus dan ensiklopedia, serta buku-buku spiritual. Mustika memang menekuni dunia spiritual. Bahkan, dia sudah menulis sebuah buku spiritual, Dunia Tanpa Suara yang diterbitkan sebuah penerbit nasional, Elex Media Komputindo. 

Menurut Mustika, perpustakaan di rumah itu bukan hanya pelengkap, tetapi sebuah kebutuhan. Kehadiran perpustakaan di rumah tidak saja menunjukkan sejauh mana seseorang akrab dengan ilmu pengetahuan, juga menunjukkan pemahamannya tentang investasi bagi masa depan. “Investasi paling penting dewasa ini kan ilmu pengetahuan,” kata Mustika.

Mustika bercerita setiap hari selalu menyediakan waktu untuk membaca buku di perpustakaan pribadinya. “Paling tidak untuk membaca koran atau buku-buku yang baru saya beli,” kata Mustika. 

Pentingnya perpustakaan di rumah juga dirasakan seorang guide wisatawan domestik, I Made Oka Andi Wirawan. Lelaki asal Dapdap Putih, Buleleng ini memiliki sebuah perpustakaan mungil di ruang tamu rumahnya di kawasan Jalan Ahmad Yani, Denpasar. Koleksi bukunya umumnya buku-buku agama dan budaya Bali serta buku-buku pariwisata. 

“Perpustakaan di rumah itu tak perlu besar-besar, koleksi juga tak perlu banyak. Yang penting kita punya koleksi buku yang sesuai dengan minat kita dan sebuah rak kecil tempat menaruh buku. Itu sudah cukup. Ketika sedang santai, kita bisa baca-baca buku itu,” kata Made Oka. 

Jika masyarakat umum saja memandang perlu kehadiran perpustakaan pribadi di rumah, apalagi bagi kalangan dosen, guru, penulis serta cendekiawan. I Made Wiradnyana, seorang dosen Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar misalnya menilai perpustakaan pribadi di rumah menjadi cerminan seorang dosen atau guru. Baginya, seorang dosen atau guru wajib memiliki perpustakaan di rumahnya. 

“Dosen atau guru itu kan agen ilmu pengetahuan. Dia yang akan mentransfer ilmu pengetahuan kepada anak mahasiswa atau murid-muridnya. Jadi, dia sendiri harus dekat dengan ilmu pengetahuan. Secara kasar, kedekatan dengan ilmu pengetahuan itu ditunjukkan dengan koleksi buku yang dimiliki di rumahnya,” kata Wiradnyana yang kini dipercaya mengurus perpustakaan di kampus IHDN Denpasar. 

Wiradnyana memang tak punya ruang perpustakaan khusus. Dia memanfaatkan ruang tamunya yang cukup luas untuk perpustakaan. Dua buah rak buku tinggi terlihat apik di ruang tamu rumahnya di Jalan Badak Agung, Denpasar. Di sebelah rak buku itu, terlihat sebuah komputer, tempatnya mengerjakan tugas-tugas kampus. 

Arti penting perpustakaan pribadi bagi seorang dosen juga diakui Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah IKIP PGRI Bali, Ida Ayu Agung Ekasriasi. Karena itu, dia memiliki sebuah ruangan khusus di rumahnya di Jalan Cekomaria Denpasar yang dijadikan perpustakaan pribadi. Dayu ---begitu dia biasa dipanggil—memajang dua buah rak buku panjang tempat menaruh koleksi buku-bukunya yang umumnya merupakan buku-buku bahasa dan sastra Indonesia sesuai bidang ilmu yang diajarkannya.

“Perpustakaan di rumah dosen itu mutlak. Karena dosen wajib memiliki buku sebagai pegangan untuk mengajar. Jadi, tak cukup meminjam di perpustakaan umum, dosen harus memiliki buku itu di rumah,” kata Dayu. (0)

Tentang Penulis

Made Sujaya

Penulis & Editor

Dosen di Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, IKIP PGRI Bali, redaktur budaya DenPost Minggu, pengasuh portal balisaja.com

Posting Komentar

 
gubuk sujaya © 2015 - Designed by Templateism.com