Minggu, 07 Juni 2015

Menimbang Jurnalisme Warga

Jurnalisme warga kerap digunakan sebagai padanan istilah citizen journalism. Jurnalisme partisipatoris menjadi padanan yang lain, tapi istilah jurnalisme warga lebih berterima dan populer.

Jurnalisme warga diartikan sebagai tindakan warga dalam memainkan peran aktif dalam pengumpulan, pelaporan, analisa dan penyebarluasan berita atau informasi. Dalam jurnalisme warga, setiap orang adalah subjek sekaligus objek. Warga tidak hanya menjadi konsumen informasi tetapi juga produsen yang menggali, mengolah dan menyebarluaskan informasi itu.

Jurnalis profesional tengah mewawancarai narasumber. (Foto: sujaya)
Jurnalisme warga menarik perhatian karena menjadi semacam alternatif dari media arus utama. Informasi atau hal-hal kecil yang tidak diperhatikan media arus utama bisa ditemukan dalam jurnalisme warga. Begitu juga masalah-masalah publik yang karena kepentingan pemilik media atau tekanan penguasa enggan disentuh media arus utama bisa ditemukan dalam media-media yang mendedikasikan dirinya pada jurnalisme warga.

Dalam jurnalisme warga, pelaku-pelakunya disebut pewarta warga atau jurnalis warga. Landasan jurnalisme warga lebih kepada kepedulian dan kesadaran warga untuk terlibat aktif dalam menggali, mengolah, dan menyebarluaskan informasi.

Itu artinya, semua orang bisa menjadi pewarta warga. Pewarta warga tak mesti memiliki kartu pers atau pun bekerja di sebuah media yang mapan. Seorang pegawai atau pun petani bisa menjadi pewarta warga. Aktivitas sebagai pewarta warga pun bisa dilakoni tanpa mengesampingkan pekerjaan pokok.

Karena jurnalisme warga bisa ditulis semua orang, kualitas informasi memang menjadi tantangan terpenting pewarta warga. Banyak orang merasa ragu dengan karya para pewarta warga. Selalu muncul pertanyaan, apakah informasi yang disajikan pewarta warga itu benar, akurat, bisa dipercaya atau pun memenuhi aspek-aspek etika publik. Pasalnya, tak jarang informasi yang disajikan hanya gosip atau pun fakta yang belum lengkap sehingga justru menimbulkan keresahan.

Itu sebabnya, seorang pewarta warga sebaiknya memahami prinsip-prinsip dasar jurnalistik. Teladan jurnalisme Amerika Serikat, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel  merumuskan sembilan elemen dasar jurnalisme yang harus dipegang seorang wartawan. Sembilan elemen jurnalisme yang dirumuskan Kovach dan Rosenstiel ini menjadi semacam tuntunan profesional, moral dan etis seorang wartawan. Kerja wartawan memang tidak semata-mata menyangkut profesionalisme jurnalistik, tetapi juga tanggung jawab moral dan etis. Kovach menempatkan kebenaran pada kewajiban pertama wartawan dan loyalitas pertamanya diberikan kepada warga. Hal ini mencerminkan jurnalisme harus senantiasa mengabdi pada kebenaran dan melayani kepentingan publik.

Priambodo RH dari Lembaga Pers Dr. Sutomo menyatakan jurnalisme warga di Indonesia baru seumur kepompong, belum menjadi kupu-kupu. Karena itu, dibutuhkan pembelajaran terus-menerus agar karya-karya jurnalis warga bisa diakui dan disejajarkan dengan karya-karya jurnalis profesional.

Priambodo merumuskan 10 panduan bagi pewarta warga: tidak boleh plagiat, harus  cek dan cek kembali fakta, jangan menggunakan sumber anonim, perhatikan dan peduli hukum, utarakan rahasia secara hati-hati, hati-hati dengan opini narasumber, pelajari batas daya ingatan orang, hindari konflik kepentingan, dilarang melakukan pelecehan, pertimbangkan setiap pendapat.


Pewarta warga hendaknya juga menggunakan rambu-rambu itu sebagai pegangan dalam menulis beritanya. Dengan begitu, karya mereka diakui kredibilitasnya dan sejajar dengan karya jurnalis profesional. (*)

Tentang Penulis

Made Sujaya

Penulis & Editor

Dosen di Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, IKIP PGRI Bali, redaktur budaya DenPost Minggu, pengasuh portal balisaja.com

Posting Komentar

 
gubuk sujaya © 2015 - Designed by Templateism.com